Cerita Santri
Saat Hati Tak Bertaut

Saat Hati Tak Bertaut
Tentu ada beberapa kemungkinan penyebab lain yang tak terungkap disini, dan dapat ditelusuri sesuai dengan latar belakang keluarga, khususnya latar belakang pasangan.

Suatu hari di pagi yang cerah, seorang muslimah separuh baya datang dengan pandangan sayu. Ia agaknya hendak berbagi kegundahan hati yang dirasakannya belakangan ini. Halimah namanya, sudah berumah tangga kurang lebih 17 tahun bersama seorang lelaki saleh dan bertanggung jawab, serta dikaruniai empat anak yang lucu-lucu. Kehidupannya lebih dari cukup, untuk ukuran masa kini. Namun, apa yang mengusik hatinya belakangan ini?

Beliau mengungkapkan bahwa akhir-akhir ini sering terjadi perselisihan pendapat dengan suami tercintanya. Dan yang membuat semakin gundah, perbedaan pendapat itu menyangkut hal-hal kecil, yang sebelumnya tidak pernah terjadi. Hal-hal yang biasanya guyonan, terkadang diterima lain oleh suaminya. Apalagi yang bersifat pendapat atau saran untuk mengingatkan. Ujung-ujungnya terjadi aksi diam, GTM (gerakan tutup mulut). Tidak ada sapaan mesra yang biasa beliau terima dari suaminya. Hal ini teramat menyiksa perasaannya. 

Hal itu, karena tak bertautnya hati. Ia dapat terjadi pada keluarga siapa pun kalau tidak diantisipasi dari awal. Mengapa itu dapat terjadi? Pertanyaan ini pasti ada di benak kita. Rasanya tak masuk akal jika pasangan yang harmonis tiba-tiba menjadi seperti minyak dan air, sulit menyatu. Bila didiamkan atau tidak dicari solusi yang tepat, tak menutup kemungkinan akhirnya terjadi perceraian. Naudzubillah...

Dalam hal ini ada beberapa kemungkinan penyebab timbulnya kasus di atas:

- Terpeliharanya maksiat-maksiat kecil dalam keluarga. Kebiasaan-kebiasaan yang melalaikan dari mengingat Allah. Contoh, terlalu banyak nonton film yang kurang manfaat.

- Jauh dari Allah, melalaikan ibadah-ibadah sunnah apalagi yang wajib. Tidak dibiasakan untuk shalat berjamaah sekeluarga dan saling berpesan dalam kebaikan.

- Tidak terbangunnya komunikasi yang lancar. Komunikasi dua arah yang nyaman tanpa ada yang tertekan.

- Adanya keinginan atau harapan masing-masing pasangan yang tak tersampaikan atau tak terpenuhi. Hal ini biasanya terjadi bila sebelumnya terjadi kasus, salah satu pasangan menolak atau tersinggung ketika diminta melakukan apa yang diinginkan pasangannya. Akhirnya keinginan atau harapan itu ia simpan dalam hati, tak diungkapkan. 

Tentu ada beberapa kemungkinan penyebab lain yang tak terungkap disini, dan dapat ditelusuri sesuai dengan latar belakang keluarga, khususnya latar belakang pasangan. 

Keadaan sepeti itu tak nyaman dan tak sehat bagi kelangsungan anggota keluarga. Seorang ibu yang bertanggung jawab mengasuh dan mendidikkan anak-anak, akan kurang optimal menjalankan fungsinya. Tidak jarang bawaan sang ibu menjadi kurang sabar ketika menghadapi anak, karena ia tidak merasa nyaman perasaannya. Tidak ada yang mau suasana dingin dan tegang dengan pasangan belahan jiwa. Di sisi lain, seorang bapak pun akan kurang optimal melakukan pekerjaannya, karena terbebani dengan masalah di keluarganya, walaupun porsinya lebih kecil. Mengapa? Karena seorang laki-laki lebih mudah mengalihkan perasaannya dibanding perempuan. (bersambung...

Sumber foto : http://bersamadakwah.net






Berikan Komentar Via Facebook
comments powered by Disqus

Cerita Santri Lainnya
Kaya Harta dan Jiwa dengan Sedekah
Kaya Harta dan Jiwa dengan Sedekah
21
Aku bilang banyak sekali, nanti kan ia harus ke sini lagi. Mengingat pekerjaan suaminya serabutan, kusarankan untuk memberi sebesar Rp25 ribu saja.